Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel), mengecek lokasi yang akan dijadikan tempat isolasi mandiri bagi pasien COVID-19. Sejumlah lokasi di survey dan dilihat kesiapannya agar bisa digunakan dalam waktu dekat.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Marullah Matali memimpin langsung pengecekan lokasi, di antaranya, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta, Kementerian Kesehatan, Jalan Hang Jebat, Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru. Wisma Pembina, Petukangan Utara, Pesanggrahan. Wisma Antam, Jalan Limo, Kebayoran Lama. SDN Gandaria Selatan 01 Pagi, dan SLB Negeri 11 Jakarta, Kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.
Dalam pengecekan, dirinya didampingi oleh Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Isnawa Adji, Sekretaris Kota Jakarta Selatan Munjirin, dan para asisten di jajaran Pemkot Jaksel.Di lokasi terakhir yakni SLB 11 Negeri Jakarta, Marullah mengatakan jika sekolah itu dipilih menjadi tempat isolasi mandiri, maka akan ada mekanisme kesehatan yang harus dijalankan. "Jika gedung sekolah ini digunakan, maka akan jadi tugas gugus baik di tingkat kecamatan, RW, atau kelurahan. Yang jadi leading sector ya pak RW sebagai ketua gugus tugas di sini. Kalau jadi disini, pak RW yang menjadi leading sectornya," jelasnya.
Marullah juga menekankan agar mereka yang dirawat dapat mematuhi peraturan dan menjaga fasilitas yang ada. "Yang menjaga lingkup ini (lokasi isolasi mandiri), ya pak RW. Yang diperiksa tidak hanya makanan, tapi kebutuhan pasien juga," ungkapnya. Marullah juga menekankan setiap petugas bisa membedakan warga dengan kategori sakit dan sehat. "Mereka yang sehat, ada kewajiban agar tidak pulang kampung, jangan keluar rumah, lumbung pangannya tercukupi serta menjalankan patroli atau ronda, bagaimana akses jalan warganya, masih banyak lagi.
Nah kalau yang sakit, juga dibagi dua, sakit perlu ke rumah sakit. Jika sakit dan harus dirawat itu cuma 20 persen. Nah sisanya yang 80 persen itu hanya sakit, berobat dan sembuh. Bisa di isolasi di rumah dia, atau di sini. Kemudian kalau meninggal dunia itu urusannya pemakaman, "imbuhnya. Meski begitu, Marullah mengaku enggan jika gedung tersebut dijadikan lokasi isolasi mandiri. "Karena kami berharap wabah COVID-19 bisa segera selesai," tandasnya.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Marullah Matali memimpin langsung pengecekan lokasi, di antaranya, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta, Kementerian Kesehatan, Jalan Hang Jebat, Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru. Wisma Pembina, Petukangan Utara, Pesanggrahan. Wisma Antam, Jalan Limo, Kebayoran Lama. SDN Gandaria Selatan 01 Pagi, dan SLB Negeri 11 Jakarta, Kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.
Dalam pengecekan, dirinya didampingi oleh Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Isnawa Adji, Sekretaris Kota Jakarta Selatan Munjirin, dan para asisten di jajaran Pemkot Jaksel.Di lokasi terakhir yakni SLB 11 Negeri Jakarta, Marullah mengatakan jika sekolah itu dipilih menjadi tempat isolasi mandiri, maka akan ada mekanisme kesehatan yang harus dijalankan. "Jika gedung sekolah ini digunakan, maka akan jadi tugas gugus baik di tingkat kecamatan, RW, atau kelurahan. Yang jadi leading sector ya pak RW sebagai ketua gugus tugas di sini. Kalau jadi disini, pak RW yang menjadi leading sectornya," jelasnya.
Marullah juga menekankan agar mereka yang dirawat dapat mematuhi peraturan dan menjaga fasilitas yang ada. "Yang menjaga lingkup ini (lokasi isolasi mandiri), ya pak RW. Yang diperiksa tidak hanya makanan, tapi kebutuhan pasien juga," ungkapnya. Marullah juga menekankan setiap petugas bisa membedakan warga dengan kategori sakit dan sehat. "Mereka yang sehat, ada kewajiban agar tidak pulang kampung, jangan keluar rumah, lumbung pangannya tercukupi serta menjalankan patroli atau ronda, bagaimana akses jalan warganya, masih banyak lagi.
Nah kalau yang sakit, juga dibagi dua, sakit perlu ke rumah sakit. Jika sakit dan harus dirawat itu cuma 20 persen. Nah sisanya yang 80 persen itu hanya sakit, berobat dan sembuh. Bisa di isolasi di rumah dia, atau di sini. Kemudian kalau meninggal dunia itu urusannya pemakaman, "imbuhnya. Meski begitu, Marullah mengaku enggan jika gedung tersebut dijadikan lokasi isolasi mandiri. "Karena kami berharap wabah COVID-19 bisa segera selesai," tandasnya.