Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menargetkan seluruh 267 kelurahan di Jakarta mengikuti Benyamin S Award (BSA) pada 2027. Langkah tersebut bertujuan mendorong setiap kelurahan meningkatkan kualitas lingkungan, mengembangkan inovasi wilayah, dan memperkuat partisipasi masyarakat untuk mewujudkan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera.
Hal itu disampaikan Gubernur Pramono saat menghadiri penganugerahan Benyamin S Award 2026 di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Jumat (30/10). Pada kegiatan tersebut turut hadir Walikota Administrasi Jakarta Selatan, Syafrin Liputo beserta jajarannya.
Ada 10 finalis pada BSA 2026 yaitu Kelurahan Kebon Sirih, Kelapa Gading Timur, Srengseng, Sukabumi Utara, Taman Sari, Kebon Baru, Cilandak Barat, Utan Kayu Selatan, Malaka Sari dan Kelurahan Pulau Panggang.
Pemenang BSA 2026 diraih Kelurahan Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur untuk Kategori Nyaman. Kemudian Kelurahan Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara Kategori Indah dan Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat Kategori Sejahtera.
Pada Kesempatan itu, Gubernur Pramono mengapresiasi peningkatan partisipasi dari 27 kelurahan pada 2025 menjadi 52 kelurahan pada 2026.
“Tahun lalu Benyamin Sueb Awards diikuti 27 kelurahan, sekarang meningkat menjadi 52 kelurahan. Saya meminta tahun depan seluruh 267 kelurahan harus ikut. Tujuannya agar semua kelurahan terpacu melakukan perbaikan di wilayah masing-masing,” tuturnya.
Menurutnya, BSA bukan sekadar ajang penghargaan, melainkan sarana mendorong persaingan positif antarkelurahan dalam menata lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Para lurah juga diharapkan mampu menggali potensi wilayah serta menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan di kelurahan lain.
Sebagai bentuk apresiasi sekaligus peningkatan kapasitas kepemimpinan, Gubernur Pramono memberikan kesempatan kepada 10 lurah finalis BSA 2026 untuk mengikuti program pembelajaran ke luar negeri. Negara tujuan akan ditentukan kemudian, dengan sejumlah pilihan di kawasan ASEAN, Jepang dan Tiongkok.
“Saya ingin 10 finalis ini melihat dunia, membandingkan dengan negara-negara yang manajemennya lebih baik dan lebih maju. Jangan sampai wawasannya hanya terbatas pada lingkungan sendiri,” katanya.
Ia juga menyoroti penurunan jumlah RW kumuh di Jakarta dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026, atau berkurang sekitar 52,6 persen. “Peningkatan kualitas lingkungan membutuhkan kolaborasi pemerintah dan masyarakat, termasuk kader Jumantik, Dasawisma, Posyandu, serta unsur kewilayahan lainnya,” tambahnya.