Bank-Sampah-Nyiur-Universitas-Budi-Luhur-Tingkatkan-Ekonomi-Warga

Jakarta Selatan – Bank Sampah Nyiur Universitas Budi Luhur di Jalan Ciledug Raya RT 10 RW 12 Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggarahan yang mengelola berton-ton sampah anorganik berhasil menjadi tempat untuk meningkatkan ekonomi warga.

Pendiri Bank Sampah Nyiur Universitas Budi Luhur, Tutik Sri Susilowati, mengatakan, unit pengelolaan yang dirintis sejak 2016 dari hanya lima nasabah tersebut kini telah membina puluhan unit bank sampah.

"Karena komitmen dan konsistensi inovasi program bersama masyarakat, sampai sekarang (2026) kita punya 70 unit bank sampah binaan yang tersebar di DKI Jakarta maupun luar daerah. Jumlah nasabah terdaftar saat ini mencapai 8.000 orang," ujar Tutik, Minggu (20/9).

Ia menjelaskan, Bank Sampah Nyiur Budi Luhur beroperasi setiap hari untuk melayani penimbangan sampah daur ulang, seperti kertas, plastik, logam, minyak jelantah, hingga beling. Volume sampah daur ulang yang dikelola mencapai minimal 10 ton per minggu atau sekitar 60 ton per bulan. Pengembangan bank sampah ini juga mendapat dukungan dari Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup (Satpel LH) Kecamatan Pesanggrahan dan PPSU Kelurahan Petukangan Utara.

"Untuk pengiriman skala unit binaan, kapasitas setoran rata-rata berkisar antara 500 kilogram hingga tiga ton," ucapnya.

Guna memudahkan warga, lanjut Tutik, pengelola menyediakan berbagai opsi pemanfaatan hasil penimbangan. Nasabah dapat mencairkan dana secara tunai, menabungnya dalam bentuk rupiah yang bisa ditarik sewaktu-waktu atau mengonversikannya menjadi tabungan logam mulia.

"Selain menjadi sarana penimbangan, Bank Sampah Nyiur Budi Luhur memfasilitasi pelatihan pengelolaan sampah organik skala rumah tangga, pembuatan pupuk ramah lingkungan, serta kerajinan dari sampah kemasan saset yang siap dibantu pemasarannya," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PKK Kecamatan Pesanggrahan, Nurhayati Fuad, menyampaikan, pemilahan sampah dari rumah tangga tidak hanya membantu mengurangi beban kirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, tetapi juga meningkatkan taraf ekonomi warga.

"Masyarakat sangat antusias karena pemilahan sampah menambah pendapatan. Bahkan hasil olahan daur ulang seperti seni dari tulang daun sudah dibentuk menjadi lukisan dan berhasil diekspor ke luar negeri," tandasnya.