Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility / CSR) kepada masyarakat, PT Trakindo Utama menyelenggarakan kegiatan Edukasi dan Awareness HIV/AIDS. Acara ini berlangsung di Ruang Serba Guna Kantor Kelurahan Cilandak Timur pada Selasa (6/10/2026).
Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 50 peserta dari unsur PPSU. Dalam sambutannya, perwakilan PT Trakindo Utama, Suwono, menyampaikan pentingnya bagi masyarakat untuk memahami cara menyikapi dan bertindak secara bijak terhadap keberadaan HIV/AIDS.
Melalui kegiatan ini, Trakindo Utama berharap para peserta dapat memperluas wawasan terkait HIV/AIDS, turut membantu pemerintah dalam menekan angka kasus, sekaligus mendukung terwujudnya budaya hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Cilandak Timur Muhammad Najib Reza Al Khani mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada PT Trakindo Utama atas terselenggaranya acara ini. Pihaknya berharap sinergi positif antara dunia usaha dan pemerintah kelurahan ini dapat terus berlanjut di masa mendatang.
Pemaparan Materi oleh Tenaga Kesehatan
Sosialisasi ini menghadirkan narasumber tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Siloam, dr. Yulita Cindra. Dalam pemaparannya, dr. Yulita menjelaskan secara rinci mengenai tiga jalur utama penularan HIV:
1. Melalui Darah: Penggunaan jarum suntik yang tidak steril, seperti pada penyalahgunaan narkoba atau pembuatan tato.
2. Hubungan Seksual: Terutama akibat sering berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan pengaman (kondom).
3. Ibu ke Bayi: Dapat terjadi melalui tiga fase, yakni kehamilan, persalinan, dan proses menyusui.
dr. Yulita juga menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, menggunakan toilet bersama, gigitan nyamuk, maupun tinggal serumah.
Gejala, Deteksi Dini, dan Pengobatan Gratis
Terkait gejala, penderita HIV seringkali tidak menunjukkan kondisi sakit yang spesifik, namun kerap mengalami diare berulang dan batuk dalam jangka waktu yang terlalu lama. Untuk memastikan status HIV, warga disarankan melakukan uji laboratorium yang dilakukan dua minggu setelah kontak berisiko, serta dilanjutkan pada bulan pertama hingga bulan ketiga.
Meskipun AIDS belum dapat disembuhkan, virus tersebut dapat ditekan hingga tidak terdeteksi menggunakan obat khusus. Dengan pengobatan ini, pengidap dapat hidup lebih layak.
"Obat ini hanya tersedia di klinik yang bekerja sama dengan pemerintah, rumah sakit pemerintah, dan puskesmas, serta diberikan secara gratis. Masyarakat yang ingin berobat diimbau agar tidak ragu mengunjungi fasilitas kesehatan," ujar dr. Yulita.
Selain itu, peserta juga diberikan edukasi mengenai contoh infeksi menular seksual lainnya seperti sifilis, gonore, herpes genital, dan kondiloma akuminata.
Pencegahan dan Penghapusan Stigma
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk tidak berganti-ganti pasangan seksual, menggunakan pengaman saat aktivitas seksual, menghindari jarum suntik terkontaminasi, memeriksakan diri secara berkala jika merasa curiga, serta melakukan vaksinasi HPV dan Hepatitis B.
Di penghujung acara, dr. Yulita berpesan agar para peserta dapat mengenali gejalanya, tidak sungkan untuk berobat, serta menghapus stigma negatif terhadap pengidap HIV. Ia menegaskan bahwa HIV bukanlah penyakit kutukan, dan pengidapnya berhak disejajarkan dengan pengidap penyakit lainnya.