kearifan-lokal-budaya-betawi-di-jaksel-harus-dipertahankan

Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Isnawa Adji, menegaskan bahwa kearifan lokal budaya Betawi di Jaksel harus dipertahankan. Ini dilakukan, agar kecintaan terhadap budaya Betawi semakin tumbuh di setiap warga Jakarta. “Saran saya, sebetulnya kita tidak perlu malu, bahwa di Jakarta Selatan ini kan banyak SKPD-nya. Di bawah Pemkot Jaksel ini banyak, ada sekolah, kantor-kantor. Mulai dari sekarang harus lebih menggunakan produk-produk Budaya Betawi,” ujarnya saat membuka acara Festival Budaya Betawi Jakarta Selatan Fiesta di Pejaten Village Mall, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (8/3).

Menurut Isnawa, saat ini bangunan halte-halte di Jakarta Selatan banyak yang sudah bernuansa Budaya Betawi. Hal serupa juga dapat dilihat di kantor kelurahan ataupun kecamatan. “Namun tidak cukup di bangunannya saja. Aparat kelurahan dan kecamatan sudah mulai memasukkan unsur budaya Betawi dalam kegiatan perkantoran. Misalnya, kita setiap Kamis sudah mulai memakai pakaian bernuansa Betawi, seperti menggunakan cukin Betawi,” tegasnya.

Isnawa menjelaskan, setiap wilayah tentu berusaha dalam mempertahankan kebudayaan masing-masing. Bali misalnya, kunjungan turis yang datang baik dari dalam maupun luar negeri, tidak serta merta membuat budaya yang melekat hilang di dalam diri masyarakat. “Karena itu kita punya tugas berat untuk mempertahannya kearifan lokal Betawi. Karena di Jakarta Selatan ini punya potensi yang sangat besar. Di era yang demikian pesat ini, perkembangan demikian pesat, kita jangan sampai meninggalkan budaya kita dan terpengaruh budaya asing,” ucapnya.

Sementara Ketua Panitia Budaya Betawi Jakarta Selatan Fiesta Rini Irawan mengatakan, kurang lebih ada 35 Industri Kecil dan Menengah (IKM) binaan Suku Dinas Perindustrian dan Energi Jakarta Selatan yang mengikuti kegiatan ini. “Dalam kegiatan ini kita mengkhususkan produk Betawi, seperti Batik Betawi Terogong, Batik Betawi Gandaria, kita juga ada dodol Betawi dari Jaksel, dan kerak telor,” terang Rini.

Rini menambahkan, kegiatan ini telah berlangsung sejak 4 Maret 2019 dan akan berakhir pada 24 Maret 2019. “Acara dari 4 sampai 24 Maret. 4 hingga 10 Maret menampilkan multiproduk, 11sampai 17 Maret kain Betawi dan Nusantara, 18 hingga 24 Maret event kuliner Betawi. Jadi setiap minggu akan berubah-ubah IKM-nya,” jelasnya.

Sementara, salah satu pedagang dodol Betawi Tarsidi, yang ikut dalam kegiatan itu mengaku sangat diuntungkan dengan adanya kegiatan tersebut. Karena selama tiga hari berjualan di Pejaten Village Mall, keuntungan yang diperolehnya meningkat hingga 50 persen, dibandingkan berjualan di rumah. “Saya inginnya lebih sering-sering seperti ini,” pungkasnya.