Hotel dan restoran di Kota Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel) perlahan mulai meninggalkan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 142 Tahun 2019 tentang Penggunaan Kantong Plastik Ramah Lingkungan ,dijalankan dengan azas kesadaran akan cinta lingkungan. Hal itu diutarakan Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Isnawa Adji, dalam kunjungannya di Pasar Kebayoran Lama, Senin (9/3).
Isnawa menjelaskan, perubahan perilaku para pengusaha sudah mulai terlihat akan penggunaan kantong plastik. "Hotel dan restoran mulai banyak perubahan. Sedotan plastik dari mereka ditawarkan dulu mau pakai apa enggak. Di beberapa tenant tidak menggunakan gelas plastik dan diubah dari karton. Artinya ada perubahan," ujarnya didampingi Wakil Camat Kebayoran Lama Sidik Rawanta.
Isnawa menuturkan, pihaknya juga terus memonitor setiap kegiatan kampanye Pergub 142 dari aplikasi WhatsApp. Dan hasilnya dilaporkan berkala oleh Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) di setiap kelurahan. "Kasi Ekbang Kelurahan itu mereka turun ke semua minimarket, gedung-gedung, sekolah. Kemana pun mengkampanyekan pergub 142 tahun 2019 tadi," ucapnya.
Menurut Isnawa, satu sisi tantangan Indonesia khususnya Jakarta Selatan masih berkutat di sampah. Hal itu juga menjadi problem tersendiri bagi dunia. "Kita ingin masyarakat, pelaku usaha tidak lagi memberikan kantong plastik kresek. Kita ajak mereka untuk berperilaku bersih dan sehat (PHBS). Tidak nyampah lagi baik pedagang maupun pembeli. Sampah organiknya bisa diolah lagi menjadi pupuk," jelasnya.
Menurut catatan, di Kebayoran Lama tercipta sampah 56 meter persegi setiap harinya. Isnawa berharap jika pengelolaan sampah sudah berjalan, sampah yang dihasilkan akan berada di angka 20 meter persegi. "Indonesia juara dua setelah Cina penghasil sampah plastik di perairan. Plastiknya sampe ke Selat Sunda, Selat Maluku. Plastik kresek jadi serpihan kecil, itu disebut microplastik dan dimakan sama ikan kita. Hasil survei itu, dua dari tujuh ikan di Indonesia timur mengandung plastik," ungkapnya.
Sementara itu, Sidik Rawanta menjelaskan, pengelolaan sampah akan lebih baik lagi mengingat wilayahnya menjadi penyumbang sampah yang cukup banyak. "Kita akan kelola agar pengelolaan sampah bisa lebih baik lagi," singkatnya.
Isnawa menjelaskan, perubahan perilaku para pengusaha sudah mulai terlihat akan penggunaan kantong plastik. "Hotel dan restoran mulai banyak perubahan. Sedotan plastik dari mereka ditawarkan dulu mau pakai apa enggak. Di beberapa tenant tidak menggunakan gelas plastik dan diubah dari karton. Artinya ada perubahan," ujarnya didampingi Wakil Camat Kebayoran Lama Sidik Rawanta.
Isnawa menuturkan, pihaknya juga terus memonitor setiap kegiatan kampanye Pergub 142 dari aplikasi WhatsApp. Dan hasilnya dilaporkan berkala oleh Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) di setiap kelurahan. "Kasi Ekbang Kelurahan itu mereka turun ke semua minimarket, gedung-gedung, sekolah. Kemana pun mengkampanyekan pergub 142 tahun 2019 tadi," ucapnya.
Menurut Isnawa, satu sisi tantangan Indonesia khususnya Jakarta Selatan masih berkutat di sampah. Hal itu juga menjadi problem tersendiri bagi dunia. "Kita ingin masyarakat, pelaku usaha tidak lagi memberikan kantong plastik kresek. Kita ajak mereka untuk berperilaku bersih dan sehat (PHBS). Tidak nyampah lagi baik pedagang maupun pembeli. Sampah organiknya bisa diolah lagi menjadi pupuk," jelasnya.
Menurut catatan, di Kebayoran Lama tercipta sampah 56 meter persegi setiap harinya. Isnawa berharap jika pengelolaan sampah sudah berjalan, sampah yang dihasilkan akan berada di angka 20 meter persegi. "Indonesia juara dua setelah Cina penghasil sampah plastik di perairan. Plastiknya sampe ke Selat Sunda, Selat Maluku. Plastik kresek jadi serpihan kecil, itu disebut microplastik dan dimakan sama ikan kita. Hasil survei itu, dua dari tujuh ikan di Indonesia timur mengandung plastik," ungkapnya.
Sementara itu, Sidik Rawanta menjelaskan, pengelolaan sampah akan lebih baik lagi mengingat wilayahnya menjadi penyumbang sampah yang cukup banyak. "Kita akan kelola agar pengelolaan sampah bisa lebih baik lagi," singkatnya.