Jakarta Selatan - Walikota Administrasi Jakarta Selatan, Syafrin Liputo memimpin Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Jalan Tegal Parang Utara Raya, RT 01/04, Kelurahan Mampang Prapatan, Kecamatan Mampang Prapatan, Jumat (21/8).
Walikota Syafrin mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh gejala awal DBD yang sering kali dikira sebagai demam biasa. Menurutnya, pemahaman yang keliru membuat penanganan medis menjadi terlambat.
"Masyarakat kerap menganggap demam pada anak hanya flu biasa dan cukup diberi obat penurun panas, padahal obat tersebut tidak mematikan virus DBD. Pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati," ujarnya.
Ia memaparkan, empat langkah utama yang perlu diterapkan masyarakat secara konsisten yakni, penerapan 3M Plus, yaitu dengan cara menguras, menutup dan mendaur ulang wadah air, ditambah langkah pencegahan gigitan nyamuk.
Kemudian menjaga kebersihan lingkungan dengan meningkatkan peran kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam menyosialisasikan pentingnya kebersihan lingkungan. Serta pemeriksaan jentik rutin mandiri dan mendorong setiap rumah tangga menunjuk satu anggota keluarga sebagai petugas Jumantik mandiri.
"Jika kesadaran pribadi di setiap rumah tangga terbentuk menjadi kesadaran kolektif, saya yakin angka kasus DBD di Kecamatan Mampang Prapatan akan turun drastis," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri, menyampaikan, penilaian potensi sebaran DBD saat ini mengacu pada incidence rate (angka kejadian) per populasi. Secara keseluruhan, Jakarta Selatan berada di peringkat keempat se-DKI Jakarta, namun untuk tingkat kecamatan, Mampang Prapatan mencatatkan incidence rate tertinggi di wilayah Jakarta Selatan.
"Di Kelurahan Mampang Prapatan tercatat enam kasus, tetapi karena faktor kepadatan penduduk, incidence rate-nya mencapai 127 atau kategori tinggi, sedangkan untuk skala kecamatan di Jakarta Selatan rata-rata berada di angka 52 atau kategori sedang," terang Debi.
Terkait pelaksanaan fogging, Debi menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan opsi terakhir setelah ditemukannya kasus positif dan dilakukannya Penyelidikan Epidemiologi (PE). "Cairan fogging mengandung bahan kimia yang berisiko memicu gangguan pernapasan hingga kanker jika digunakan berlebihan. Langkah paling efektif dan aman tetaplah gerakan PSN 3M Plus serta penguatan program Jumantik Mandiri," pungkasnya.