Jakarta Selatan - Wakil Walikota Jakarta Selatan, Firmanuddin Ibrahim memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kota Administrasi Jakarta Selatan, di Ruang Gelatik Utama Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Jumat (23/10).
Dalam rapat, Firmanuddin menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antarinstansi. Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama terpadu yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
"Permasalahan stunting bukan hanya bersumber dari faktor ekonomi semata, melainkan juga pola asuh di masyarakat," ujarnya.
Ia menuturkan, penanganan stunting memerlukan keterlibatan aktif secara berjenjang, mulai dari tingkat Suku Dinas (Sudin) terkait, camat, lurah, puskesmas, hingga pengurus RT dan RW.
"Guna mengoptimalkan edukasi gizi dan pola asuh, pendekatan berbasis keagamaan dan kebudayaan juga akan didorong melalui peran tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat agar pesan intervensi lebih mudah diterima warga," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Selatan, Rizky Hamid, memaparkan, tren penanganan stunting di wilayah Jakarta Selatan terus menunjukkan perkembangan positif.
"Berdasarkan data 2023 dan 2024, angka stunting di Jakarta Selatan menunjukkan tren penurunan. Namun, kita tetap harus bekerja keras untuk mencapai target jangka panjang," jelasnya.
Rizky menyampaikan, target yang ditetapkan untuk Jakarta Selatan pada akhir tahun 2030 cukup masif. Berdasarkan data Sudin Kesehatan, prevalensi stunting ditargetkan turun dari sekitar 14 persen menjadi 11,2 persen.
"Sudin PPAPP bertugas mengoordinasikan seluruh Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD) di Jakarta Selatan agar dapat menyamakan langkah dalam mewujudkan anak-anak yang bebas stunting," tambahnya.