Kategori : KESRA , Terbit : Rabu, 27 Januari 2021

Pemkot Jaksel Gelar Rakor Penanggulangan Bencana Banjir




Dibaca : 276

    Jakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel), melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) Tindak Lanjut Rapat Pimpinan Gubernur Provinsi DKI Jakarta terkait Persiapan Penanggulangan Bencana Banjir, di Ruang Pola Blok A Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, Rabu (27/1). Rapat ini dipimpin oleh Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Isnawa Adji, didampingi Sekretaris Kota Jakarta Selatan Munjirin, Asisten Pemerintahan Mahludin, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Mukhlisin, dan Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Sayid Ali.

    Di hadapan para camat, serta pimpinan dari sudin dan kabag terkait, Isnawa mengatakan, ada beberapa poin yang menjadi pembahasan. Salah satunya adalah genangan air tidak boleh lebih dari enam jam, tidak ada korban jiwa, dan mengusung tagline Siaga, Tanggap dan Galang. “Saya mengingatkan kepada jajaran bahwa ada yang namanya Kampung Tangguh diubah menjadi Kampung Siaga. Kampung Siaga itu ialah kampung yang mempunyai beberapa kriteria, ketinggian banjirnya lebih dari satu meter, minimal selama dua tahun berturut turut mengalami banjir, di lingkungan padat penduduk, dan pengungsinya bisa di angka minimal 100 orang,” terangnya.

    Isnawa meminta agar lokasi yang masuk dalam kriteria Kampung Siaga dapat diinventarisir. Selain itu, harus ada SOP yang jelas kepada warga yang terkena banjir di Kampung Siaga, ataupun yang berada di luar kampung tersebut. “Pesan dari gubernur kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya. Posko pengungsian kita harus siap, posko kesehatan harus siap, bantuan dapur umum, air bersih, air minum itu semua harus siap. Jadi harus ada respon time pendukung pendukung penanggulangan banjir ini harus siap sebelum terjadinya banjir,” tegasnya.

    Isnawa juga menuturkan, ketika terjadi bencana harus ada orang yang bertugas mengingatkan warganya untuk melakukan berbagai prosedur seperti segera mengungsi, mematikan peralatan listrik, mengamankan surat surat berharga. “Tadi juga kita sampaikan kepada rekan rekan yaitu alat ukur curah hujan, alat ini menjadi catatan dan menjadi evaluasi kita apabila terjadi curah hujan yang cukup banyak. Apabila curah hujan melebihi 100 mm tentunya akan berdampak dan kita harus lebih tanggap. Ini semua merupakan upaya-upaya kita untuk mengurangi banjir,” tandasnya.

    Sudin Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Administrasi Jakarta Selatan.

    Penulis : KIP JS