Kategori : PEMERINTAHAN , Terbit : Rabu, 28 Desember 2011

FKUB Berperan Ciptakan Kerukunan Antar Umat Beragama




Dibaca : 559

    Walikota Jakarta Selatan Anas Efendi mengatakan Jakarta sebagai pusat dari segala pusat kehidupan nasional dengan penduduk yang sangat padat dan majemuk, mempunyai berbagai permasalahan sosial yang sangat komplek dan tingkat kehidupan beragama yang majemuk, ini harus diantisipasi karena dapat mengganggu kondusifitas daerah termasuk kerukunan beragama.

     Dengan melihat kondisi Jakarta yang sangat majemuk ini, pembangunan kerukunan umat beragama perlu ditingkatkan sehingga dapat menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa,”katanya yang didampingi Ketua FKUB Jakarta Selatan Abdul Mufti dan Kepala Kementerian Agama Jakarta Selatan Aslih Kurniawan saat”Silaturahmi Tokoh Lintas Agama di Jakarta Selatan di kantor walikota Jaksel, Rabu (28/12)

    Kerukunan hidup umat beragama mengandung makna penting bukan saja bagi pembangunan bangsa tetapi juga bagi kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ada 4 pilar yang melandasi tetap kokohnya Indonesia yaitu, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,”tegasnya.

    Sebagai tokoh panutan seperti kyai atau Ustadz dikalangan umat Islam, Pemuka masyarakat Kristen, Katholik, Hindu, Budha maupun Khonghucu. Ditangan mereka itulah kerukunan umat ditentukan dan disadari betul oleh pemerintah, sehingga perlu memfasilitasi terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang ditetapkan melalui Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri no.9 dan no.8 tahun 2006, ini sebuah wadah kerja sama antar pemuka agama,”tambahnya.

    Dikesempatan lain Ketua FKUB Jakarta Selatan Abdul Mufti menambahkan maksud penyelenggaran kegiatan ini adalah untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan para peserta dalam mental spiritual dan agama, khususnya dalam hal kerukunan beragama antar umat beragama, yang harmonis, damai, aman dan saling menghormati serta bertujuan menyamakan pemahaman terhadap upaya menghormati kemajemukan masyarakat Jakarta yang rentan terhadap konflik sosial,”jelasnya.

    Penulis : KIP JS