Setelah Empat Tahun, Jakarta Selatan Kembali Raih Adipura

PEMBANGUNAN
Terbit: Aug 04, 2017

NameKota Administrasi Jakarta Selatan berhasil meraih penghargaan Adipura 2017. Ini setelah empat tahun penghargaan atas keberhasilan menjaga kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan ini absen dari kota itu. Terakhir kali, Kota Administrasi Jakarta Selatan memperoleh Piala Adipura pada tahun 2013. Selain Adipura, rukun warga di dua kelurahan di Jakarta Selatan juga masuk nominasi program nasional kampung iklim 2017, yaitu RW 07 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan dan RW 03 Kelurahan Rawajati.

Proklim adalah penghargaan terhadap masyarakat pada lokasi setingkat RW/dusun/dukuh dan maksimal setingkat kelurahan atau desa, yang telah melakukan aksi lokal terkait dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat lokal mencakup pengendalian banjir, peningkatan ketahanan pangan, penanganan kenaikan muka air laut, pengendalian penyakit terkait iklim, dan lainnya. Berbagai keberhasilan ini tidak lepas dari tangan dingin Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Syaripudin. “Kuncinya adalah sinergitas dan partisipasi masyarakat yang tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup,” kata Syaripudin yang menjabat Kasudin LH Jakarta Selatan sejak tahun lalu.

Beragam penghargaan lingkungan hidup ini, menurut Syaripudin, diperoleh setelah Kota Administrasi Jakarta Selatan melakukan berbagai upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di bidang pengelolaan sampah, pengelolaan ruang terbuka hijau, pengendalian pencemaran air, dan pengendalian pencemaran udara. Dalam bidang pengelolaan sampah, kata dia, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat untuk melaksanakan program bank sampah.

Dalam hal ini, kata dia, masyarakat didorong untuk melakukan pemilahan sampah di sumber sampah yaitu di tingkat rumah tangga. Sampah yang sudah terpilah akan dikelola sesuai dengan jenisnya, diolah menjadi kompos bagi sampah organik, diolah menjadi kerajinan daur ulang atau dijual melalui bank sampah untuk sampah anorganik. Puncak dari pelaksanaan program bank sampah di Jakarta Selatan, menurut Syaripudin, adalah terbentuknya bank sampah induk Gesit Kota Administrasi Jakarta Selatan yang dikelola oleh paguyuban bank sampah Kota Administrasi Jakarta Selatan.

Bank sampah induk tersebut dapat menjadi jembatan bagi perusahaan-perusahaan pengolah limbah anorganik untuk dapat membeli sampah anorganik dari bank sampah-bank sampah yang ada di Kota Administrasi Jakarta Selatan, sehingga tercipta kestabilan harga yang dapat memberikan manfaat lebih bagi bank sampah-bank sampah tersebut. Kedepan, kata Syaripudin, jajarannya akan meningkatkan program penegakan hukum Perda 3 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. “Sanksi yang tegas bagi pelanggar Perda. Ini untuk mewujudkan Jakarta sebagai Ibukota Ibukota Negara harus bersih dan tertib, seperti ibukota negara-negara maju,” katanya. (KIP JS)